Tampilkan postingan dengan label Infeksi Saluran Urogenital Bagian Bawah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Infeksi Saluran Urogenital Bagian Bawah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2011

KANDIDIASIS VULVOVAGINAL

Pendahuluan
S: Subjektif
O: Objektif
A: Asessmen
P: Penatalaksanaan
Penyuluhan Pasien
Rujukan
Interaksi potensial penggunaan ARV
 
image

PENDAHULUAN
Kandidiasis Vulvovaginal adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh berbagai jenis Candida, terutama dari jenis Candida Albicans. Infeksi ini sering menyerang kaum wanita namun menjadi lebih sering dan berat pada penderita gangguan imunologi yang berat
Infeksi kandida yang refrakter bukan indikasi adanya infeksi HIV, namun infeksi ini yang merupakan manifestasi klinik yang pertama kali muncul pada infeksi HIV ( pada hitung CD4 > 500 sel /uL. Kejadian kandidiasis vaginal cenderung meningkat manakala hitung CD4 menurun ; akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan ini juga dapat terjadi akibat pemakaian antibiotika pada penderita infeksi HIV
Faktor resiko kandidiasis : diabetes melitus – pemakaian kontrasepsi oral – kortikosteroid atau antibiotika

Selasa, 13 September 2011

TRIKOMONIASIS

Trichomoniasis
clip_image002
Micrograph showing a positive result for trichomoniasis. A trichomonas organism is seen on the top-right of the image.
Trikomonas seringkali menyebabkan vaginitis. Ini merupakan infeksi menular seksual dan disebabkan oleh parasit protozoa yang dikenal sebagai Trichomonas vaginalis 1
Infeksi primer dari trikomonas adalah pada traktus urogenitalis ; lokasi paling sering adalah pada urethra dan vagina wanita.
GEJALA
Pada umumnya, infeksi trikomonas hanya menimbulkan keluhan pada wanita. Keluhan antara lain berupa infeksi pada servik (cervicitis) , urethra (urethritis) , dan vagina (vaginitis) yang menimbulkan gejala rasa gatal dan pedih. Rasa tidak nyaman bertmabh hebat saat sanggama dan buang air kecil.
Terjadi keputihan yang berwarna kuning kehijauan, menimbulkan rasa pedih, berbau tidak sedap dan berbusa. Kadang-kadang juga dapat disertai dengan nyeri perut bagian bawah. Gejala dan keluhan akan muncul dalam waktu 5 – 28 hari pasca paparan.2
Pada sejumlah kasus, pria merupakan reservoar dari parasit selama bertahun-tahun tanpa gejala (dorman). Kadang-kadang, gejala pada pria berupa iritasi dalam penis, cairan minimal atau rasa pedih ringan pasca buang air kecil atau ejakulasi.2
DIAGNOSIS
Diagnosa trikomoniasis ditegakkan dengan terlihatnya trichomonad melalui pemeriksaan mikroskopik. Pada wanita, sediaan diperoleh melalui pemeriksaan panggul (inspekulo) dan selama pemeriksaan inspekulo dapat terlihat adanya ulserasi pada dinding vagina atau servik (“mouth eaten appearance”)
ETIOLOGI & FAKTOR RESIKO
Traktus genitalis adalah satu-satunya reservoar pada manusia. Penularan terjadi melalui aktivitas seksual.
TERAPI
Terapi untuk ibu hamil atau tidak hamil adalah metronidazole , sedapat mungkin tidak diberikan terapi pada awal kehamilan.7 Flagyl ® dosis tunggal 2000 mg per oral. Terqapi juga diberikan pada pasangan seksual meskipun tidak memperlihatkan gejala.8
KOMPLIKASI
  • Trichomoniasis menngkatkan resiko penularan HIV.
  • Trichomoniasis menyebabkan lahirnya bayi BBLR atau premature.
  • Trichomoniasis terkait dengn peningkatan kemungkinan trjadinya karsinoma servik
  • Infeksi pada pria meningkatkan resiko karsinoma prostate.10
PENCEGAHAN
Penggunaan kondom dapat mencegah penularan trikomoniasis.12 Penularan melalui air jarang terjadi oleh karena trikomonas akan mati dalam waktu 45 – 60 menit dalam air
RUJUKAN
  1. ^ Midlej V., Benchimol M. (2010). "Trichomonas vaginalis kills and eats- evidence for phagocytic activity as a cytopathic effect". Parasitology 137 (1): 65–76. doi:10.1017/S0031182009991041. PMID 19723359.
  2. ^ a b Trichomoniasis symptoms. cdc.gov
  3. ^ [1]. Can trichomoniasis be dormant? MedHelp
  4. ^ Andrea SB, Chapin KC (2011). "Comparison of Aptima Trichomonas vaginalis Transcription-Mediated Amplification Assay and BD Affirm VPIII for Detection of T. vaginalis in Symptomatic Women: Performance Parameters and Epidemiological Implications.". J Clin Microbiol 49 (3): 866–9. doi:10.1128/JCM.02367-10. PMID 21248097. Lay summary.
  5. ^ "Trichomoniasis - CDC Fact Sheet". Retrieved 12 January 2011.
  6. ^ Scientists crack the genome of the parasite causing trichomoniasis. Physorg.com. Jan. 12, 2007.
  7. ^ Cudmore SL, Delgaty KL, Hayward-McClelland SF, Petrin DP, Garber GE (October 2004). "Treatment of infections caused by metronidazole-resistant Trichomonas vaginalis". Clin. Microbiol. Rev. 17 (4): 783–93, table of contents. doi:10.1128/CMR.17.4.783-793.2004. PMC 523556. PMID 15489348.
  8. ^ a b Rob, Lukáš; Martan, Alois; Citterbart, Karel et al. (2008) (in Czech). Gynekologie (2nd ed.). Prague: Galen. p. 136. ISBN 978-80-7262-501-7.
  9. ^ Heather Feldman. Scientists fighting STD with research, education.
  10. ^ LittleAbout, Boffins find link between common sexual infection, prostate cancer risk, Retrieved Sept 17 2009.
  11. ^ Associated Press, Abstinence students still having sex, MSNBC, April 16, 2007. Retrieved March 12, 2008.
  12. ^ Vaginitis/Trichomoniasis :Reduce your risk, American Social Health Association. Retrieved March 12, 2008.
  13. ^ Vaginitis/Trichomoniasis :Treatment for trichomoniasis, American Social Health Association. Retrieved March 12, 2008.

Senin, 12 September 2011

VAGINOSIS BAKTERIAL

Vaginosis Bakterial

Vaginosis Bakterial – VB seringkali disebut sebagai vaginal bacteriosis 1 adalah penyakit pada vagina yang disebabkan oleh bakteri. Oleh CDC-centre of disease control tidak dimasukkan kedalam golongan IMS-Infeksi Menular Seksual 2 . VB disebabkan oleh gangguan kesimbangan flora bakteri vagina dan seringkali dikacaukan dengan infeksi jamur (kandidiasis) atau infeksi trikomonas 3,4

Gejala & Tanda
Gejala utama VB adalah keputihan homogen yang abnormal (terutama pasca sanggama) dengan bau tidak sedap.5
Cairan keputihan berada di dinding vagina dan tidak disertai iritasi, nyeri atau eritema.
Tak seperti halnya dengan keputihan vagina normal, keputihan pada VB jumlahnya bervariasi dan umumnya menghilang sekitar 2 minggu sebelum haid.
Etiologi
Pada vagina normal, terdapat sejumlah mikroorganisme ; diantaranya adalah Lactobacillus crispatus dan Lactobacillus jensenii.
Laktobasilus adalah spesies penghasil hidrogen peroksidase yang mampu mencegah pertumbuhan mikroorganisme vagina lain. Mikroorganisme yang terkait dengan VB sangat beragam dan diantaranya adalah Gardnerella vaginalis, Mobiluncus, Bacteroides, dan Mycoplasma
Perubahan dalam flora vagina normal antara lain adalah berkurangnya laktobasilus akibat penggunaan antibiotika atau gangguan keseimbangan pH sehingga terjadi pertumbuhan berlebihan dari bakteri lain.
Meskipun VB berhubungan dengan aktivitas seksual, tidak ada bukti jelas mengenai adanya penularan seksual. Pada pasien yang tidak memiliki aktivitas seksual aktif dapat pula terjadi VB. VB merupakan gangguan keseimbangan biologi dan kimiawi dari flora normal vagina. Penelitian akhir meneliti hubungan antara pengobatan pasangan seksual dan eradikasi VB berulang. Ibu hamil dan wanita dengan IMS memiliki resiko tinggi menderita VB. Kadang-kadang VB terjadi pada pasien pasca menopause. Anemia defisiensi zat besi merupakan prediktor kuat adanya VB pada ibu hamil.7
Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis VB harus dilakukan hapusan vagina yang selanjutnya diperiksa mengenai :
  1. Bau khas “fishy odor” pada preparat basah yang disebut sebagai “whiff test” yang dilakukan dengan meneteskan potassium hydroxide-KOH pada microscopic slide yang sudah ditetesi dengan cairan keputihan.
  2. Hilangnya keasaman vagina. Seperti diketahui, bahwa untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri, pH vagina berkisar antara 3.8 – 4.2. Pemeriksaan dengan kertas lakmus yang memperlihatkan adanya pH > 5 memperlihatkan terjadinya VB.
  3. Adanya clue cells . Cara pemeriksaan adalah dengan meneteskan larutan NaCl pada microscop slide yang telah dibubuhi dengan cairan keputihan. Clue cell adfalah sel epitel yang dikelilingi oleh bakteria
image
“Clue Cell”

Diagnosa Banding :
GAMBARAN KLINIK
Diagnosa VB atas dasar Kriteria Amsel:9
  1. Cairan vagina berwarna putih kekuningan, encer dan homogen
  2. Clue cells pada pemeriksaan mikroskopik
  3. pH vagina >4.5
  4. Whiff Test positif (bau amis timbul setelah pada cairan vagina diteteskan larutan KOH - potassium hydroxide
Konfirmasi diagnosis ditegakkan bila ditemukan 3 dari 4 kriteria diatas 2
Pengecatan Gram
Alternatif diagnosis adalah dengan melakukan pengecatan gram pada hapusan vagina dengan kriteria Hay/Ison atau Kriteria Nugent.10
Kriteria Hay/Ison : (Hay et al., 1994)
  • Grade 1 (normal) : predominasi dari morfotipe laktobasilus
  • Grade 2 (intermediate) : Flora campuran dengan sejumlah kecil laktobasilus dan Gardnerella dan Mobiluncus
  • Grade 3 (vaginosis bakterial) : predominasi dari Gardnerella dan atau morfotipe Mobiluncus. Latobasilus minimal atau tak ditemukan
Standard untuk penelitian adalah menggunakan Kriteria Nugent.11 Kriteria ini menggunakan skoring 0 – 10
  • Skore 0 – 3 , diagnosis VB negatif
  • Skore 4 – 6 , intermediate
  • Skore > 7 , diagnosis VB positif
clip_image002
Penelitian terbaru12  membandingkan antara pengecatan gram dengan kriteria Nugent dan Hibridisasi DNA Affirm VPIII dalam penegakkan diagnosa VB.
Test Affirm VPIII dapatb mendeteksi 93% sediaan vagina yang positif VB melalui pemeriksaan pengecatan Gram.
Sensitivitas Affirm VPIII test adalah 87.7% dan spesifisitas nya 96% dan dapat digunakan untuk penegakkan diagnosa VB secara cepat pada penderita VB.
 
Terapi
Antibiotika
Metronidazole atau clindamycin peroral atau lokal adalah trerapi yang efektif13 Namun angka kekambuhan juga cukup tinggi 6
Regimen medikamentosa umum adalah Metronidazol 500 mg 2 dd 1 (setiap 12 jam) selama 7 hari14 Dosis tunggal tidak dianjurkan oleh efektivitasnya erendah.
Tidak diperlukan terapi pada pasangan seksual.
Komplikasi
Meningkatnya kepekaan terhadap IMS termasuk infeksi HIV dan komplikasi pada ibu hamil.
Epidemiologi
Diperkirakan 1 dari 3 wanita terserang dengan VB dalam satu episode kehidupan mereka 18
 
Rujukan
  1.  ^ "Vaginal Infections — How to Diagnose and Treat Them: Bacterial Vaginosis or Vaginal Bacteriosis". Medscape. Retrieved 10 October 2009.
  2. ^ a b c "National guideline for the management of bacterial vaginosis (2006)". Clinical Effectieness Group, British Association for Sexual Health and HIV (BASHH).
  3. ^ Terri Warren, RN (2010). "Is It a Yeast Infection?". Retrieved 2011-02-23.
  4. ^ Ferris DG, Nyirjesy P, Sobel JD, Soper D, Pavletic A, Litaker MS (March 2002). "Over-the-counter antifungal drug misuse associated with patient-diagnosed vulvovaginal candidiasis". Obstetrics and Gynecology 99 (3): 419–425. doi:10.1016/S0029-7844(01)01759-8. PMID 11864668.
  5. ^ http://www.fda.gov/downloads/Drugs/GuidanceComplianceRegulatoryInformation/Guidances/ucm070969.pdf
  6. ^ a b Bradshaw CS, Morton AN, Hocking J, et al. (2006). "High recurrence rates of bacterial vaginosis over the course of 12 months after oral metronidazole therapy and factors associated with recurrence". J. Infect. Dis. 193 (11): 1478–86. doi:10.1086/503780. PMID 16652274.
  7. ^ Verstraelen H, Delanghe J, Roelens K, Blot S, Claeys G, Temmerman M (2005). "Subclinical iron deficiency is a strong predictor of bacterial vaginosis in early pregnancy". BMC Infect. Dis. 5: 55. doi:10.1186/1471-2334-5-55. PMC 1199597. PMID 16000177.
  8. ^ Nansel TR, Riggs MA, Yu KF, Andrews WW, Schwebke JR, Klebanoff MA (February 2006). "The association of psychosocial stress and bacterial vaginosis in a longitudinal cohort". Am. J. Obstet. Gynecol. 194 (2): 381–6. doi:10.1016/j.ajog.2005.07.047. PMC 2367104. PMID 16458633.
  9. ^ a b Amsel R, Totten PA, Spiegel CA, Chen KC, Eschenbach D, Holmes KK (1983). "Nonspecific vaginitis. Diagnostic criteria and microbial and epidemiologic associations". Am. J. Med. 74 (1): 14–22. doi:10.1016/0002-9343(83)91112-9. PMID 6600371.
  10. ^ Ison, CA; Hay, PE (2002). "Validation of a simplified grading of Gram stained vaginal smears for use in genitourinary medicine clinics". Sex Transm Infect 78 (6): 413–5. doi:10.1136/sti.78.6.413. PMC 1758337. PMID 12473800.
  11. ^ a b Nugent RP, Krohn MA, Hillier SL (1991). "Reliability of diagnosing bacterial vaginosis is improved by a standardized method of gram stain interpretation". J. Clin. Microbiol. 29 (2): 297–301. PMC 269757. PMID 1706728.
  12. ^ Gazi H, Degerli K, Kurt O, et al. (2006). "Use of DNA hybridization test for diagnosing bacterial vaginosis in women with symptoms suggestive of infection". APMIS 114 (11): 784–7. doi:10.1111/j.1600-0463.2006.apm_485.x. PMID 17078859.
  13. ^ a b Oduyebo OO, Anorlu RI, Ogunsola FT (2009). "The effects of antimicrobial therapy on bacterial vaginosis in non-pregnant women". Cochrane Database Syst Rev (3): CD006055. doi:10.1002/14651858.CD006055.pub2. PMID 19588379.
  14. ^ http://www.cdc.gov/std/treatment/2006/vaginal-discharge.htm
  15. ^ Potter J (November 1999). "Should sexual partners of women with bacterial vaginosis receive treatment?". Br J Gen Pract 49 (448): 913–8. PMC 1313567. PMID 10818662.
  16. ^ Senok AC, Verstraelen H, Temmerman M, Botta GA (2009). "Probiotics for the treatment of bacterial vaginosis". Cochrane Database Syst Rev (4): CD006289. doi:10.1002/14651858.CD006289.pub2. PMID 19821358.
  17.  ^ "STD Facts — Bacterial Vaginosis (BV)". CDC. Retrieved 2007-12-04.
  18. ^ "The Family Planning Association".

Kamis, 19 Agustus 2010

SITOLITIK VAGINOSIS

SITOLITIK VAGINOSIS

Love's first rose

APA YANG DIMAKSUD DENGAN SITOLITIK VAGINOSIS ( cytolitic vaginosis )
Sitolitik vaginosis tidak jarang merupakan penyebab penyakit keputihan pada wanita.

APA PENYEBAB SITOLITIK VAGINOSIS ?

Dalam keadaan normal, pada vagina wanita dewasa terdapat koloni laktobasilus. Bakteri ini memproduksi asam laktat yang mempertahankan keasaman vagina dan kandungan hidrogen peroksida yang merupakan antiseptik. Kuman laktobasilus melindungi vagina terhadap infeksi kuman patogen dan sangat dibutuhkan agar vagina tetap dalam keadaan sehat.
Sitolitik vaginosis terjadi akibat pertumbuhan laktobasilus secara berlebihan. Keberadaan laktobasilus secara berlebihan akan menimbulkan iritasi dan kerusakan terhadap sel mukosa vagina, Sel epitel yang rusak tersebut akan terkelupas dan berada dalam sekresi vagina.

APA GEJALA SITOLITIK VAGINOSIS?

Sejumlah penderita sitolitik vaginosis sering tidak mengeluhkan keadaan ini dan bahkan seringkali pula tidak sadar bila mereka menderita sitolitik vaginosis. Mereka baru menyadari adanya kelainan ini saat memperoleh hasil pemeriksaan hapusan vagina atau hapusan servik.
Sejumlah penderita menyampaikan keluhan sebagai berikut :
  • Keluarnya cairan berwarna putih per vaginam dalam jumlah yang amat banyak, sifat cairan encer atau kental dan bergumpal
  • Rasa gatal dan pedih pada vagina dan vulva (pruritus vulvae)
  • Rasa pedih pada vulva (vulvodynia) terutama saat miksi (dysuria)
  • Sakit saat sanggama (dyspareunia)
  • Keluhan diatas mirip vaginitis akibat infeksi jamur. Seperti halnya infeksi jamur, penyakit ini seringkali menjadi semakin hebat pada paruh kedua siklus haid. Meskipun demikian, hapusan vagina seringkali tak dapat menemukan jamur penyebabnya yaitu candida albican. Pada kasus sitolitik vaginosis pH vagina berkisar 3.3 sampai 5.5, dan pengobatan dengan memberikan krim serta tablet anti jamur tidak efektif.

BAGAIMANA MENEGAKKAN DIAGNOSIS SITOLITIK VAGINOSIS?

Diagnosis sitolitik vaginosis harus dipertimbangkan pada wanita dewasa dengan keluhan vaginal yang tidak mereda atau seringkali berulang dengan terapi anti jamur. Pada kasus ini harus dilakukan pengambilan dan pemeriksaan sediaan hapusan vagina. Diagnosis ditegakkan bila hasil pemeriksaan memperlihatkan jumlah laktobasilus dan sel epitelial yang banyak serta tidak dijumpai adanya tanda infeksi jamur atau mikro organisme lain sebagai penyebab keputihan.

BAGAIMANA PENGOBATAN SITOLITIK VAGINOSIS ?
Sebagian besar penderita tidak memerlukan terapi dan bila diberikan maka terapi anti jamur harus dihentikan.
Pada wanita dengan keluhan sitolitik vaginosis dapat diberikan nasihat agar hanya menggunakan tampon saat menstruasi dan melakukan rendam duduk ( sitz baths ) atau bilas vagina dengan cairan sodium bicarbonat ( baking soda ) untuk meningkatkan pH vagina sehingga memperlambat laju pertumbuhan laktobasilus.
Gunakan 2 – 4 sendok makan baking soda yang dicampur air hangat secukupnya untuk rendam duduk beberapa kali dalam seminggu dan dilanjutkan seminggu sekali untuk mencegah kekambuhan.