Rabu, 07 September 2011

SINDROMA OVARIUM POLIKISTIK

image
  • BATASAN: Adalah satu kelainan dimana terjadi anovulasi kronik hipernadrogenik dimana semua penyebab sekunder (etiologi sekresi andogenik) telah disingkirkan
  • PREVALENSI: 4 – 6% usia reproduktif
  • ETIOLOGI: ??
EVALUASI DIAGNOSTIK
  • Anamnesa: Anamnesa dipusatkan pada pola haid, kehamilan sebelumnya (jika pernah terjadi), obat-obatan yang dikonsumsi, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, pola makan, identifikasi keluarga dengan DM atau penyakit kardiovaskular
  • Pemeriksaan Fisik: Ditujukan pada
    • Kebotakan, jerawat, klitoromegali,distribusi rambut tubuh, tanda resistensi insulin (obesitas, distribusi lemak sentripetal, akantosis nigrikan)
image
Alopecia
image
Hirsutisme
image
Acanthosis Nigricans
    • Pemeriksaan bimanual : pembesaran ovarium
image

image
  • Pemeriksaan Laboratorium:
    • Kadar testosteron atau DHEAS – dehidroepiandrosteron sulfat yang tinggi menunjukkan adanya hiperandrogenisme ovarium
  • Pencitraan Medik:
    • Ultrasonografi pelvik (kadang dapat memperlihatkan gambaran ultrasonografi khas dari ovarium polikistik)
image
PATOFISIOLOGI:
ncpendmet0637-pf1

Pathophysiology of polycystic ovary syndrome (PCOS).

Diagnostic features of PCOS are hirsutism, anovulation, and polycystic ovaries, which show arrested follicular maturation; obesity and insulin resistance are frequently associated conditions. The major biochemical feature of PCOS is androgen excess, which causes hirsutism. Androgens also appear to inhibit the negative-feedback effects of estrogens and progesterone on pulsatile LH release. Women with PCOS have increased pulsatile GnRH release, which results in higher levels of LH and lower levels of FSH in most individuals. Higher LH (and insulin) levels seem to cause increased androgen production by follicular theca cells whereas lower FSH levels lead to anovulation. Obesity and insulin resistance decrease levels of sex-hormone-binding globulin and thereby increase testosterone bioactivity. If follicular granulosa cells are insulin resistant, it might affect their responses to FSH; otherwise, granulosa cells appear to be very capable of releasing estrogen in response to FSH, perhaps as a result of the actions of androgens and insulin. Abbreviations: FSH, follicle-stimulating hormone; GnRH, gonadotropin-releasing hormone; LH, luteinizing hormone.
  • Sindroma ovarium polikistik merupakan representasi tahap akhir dari satu “siklus merusak” oleh peristiwa-peristiwa endokrinologi dengan titik awal yang beragam.
  • Masih belum jelas, apakah patologi primer berada di ovarium atau di hipotalamus, namun dasar kerusakan yang terjadi adalah pengiriman “sinyal tak wajar” ke hipotalamus atau hipofisis.
  • Kadar hormon LH yang tinggi (tanda khas PCOS)  disebabkan oleh produksi estrogen perifer ↑ (umpan balik positif) dan sekresi GnRH ↑
  • Kadar hormon FSH yang rendah disebabkan oleh produksi estrogen perifer ↑ (umpan balik negatif) dan sekresi inhibin yang ↑
  • PCOS ditandai oleh kadar LH yang meningkat secara persisten dan kadar FSH yang tertekan secara kronik, meskipun terdapat peningkatan atau penurunan yang bersifat siklis yang terjadi pada siklus haid normal.
  • Tingginya kadar LH menyebabkan stimulasi stroma ovarium dan sel teka untuk meningkatkan produksi androgen. Di perifer, androgen di konversi melalui aromatisasi menjadi estrogen yang semakin memperparah peristiwa anovulasi kronik.
  • Akibat tertekannya FSH, pertumbuhan folikel baru terus menerus di stimulasi namun tak sampai pada tahap pematangan dan ovulasi (corpus luteum dan corpus albican jarang terlihat). Peningkatan androgen berperan atas pencegahan maturasi folikel dan menginduksi atresia folikel terlampau dini.
  • Ovarium adalah lokasi utama overproduksi androgen ; peranan dari kelenjar adrenal dalam produksi androgen sangat minimal.
  • Penambahan jaringan lemak pada pasien yang obese berperan dalam peningkatan aromatisasi androgen ekstraglandular menjadi estrogen.
  • Testosteron sirkulasi meningkat (menyebabkan hirsuitisme) karena menurunnya kadar globulin pengikat hormon seks ( SHBG-sex hormone binding globulin) pada penderita PCOS.
MANIFESTASI KLINIK
  • Gangguan Haid (80%) segera setelah menarke , kadang kadang terjadi amenorea sekunder atau oligomenorea
  • Hirsuitisme (70%)
  • Infertilitas (75%) akibat anovulasi kronik
  • Acanthosis Nigrican: penanda dermatologi adanya resistensi insulin dan hiperinsulinemia
  • Sindroma Hair-An (hyperandrogenisme, resistensi insulin dan acanthosis nigricans) merupakan representasi dari efek ekstrim dari anovulasi kronik hiperandrogenik.
GEJALA JANGKA PANJANG
  • Hiperplasia endometrium atau adenokarsinoma akibat paparan estrogen kronis
  • Intoleransi glukosa atau diabetes melitus
  • Penyakit kardiovaskular
  • Dislipidemia
PENATALAKSANAAN
Diarahkan pada interupsi siklus anovulasi kronik hiperandrogenik
  • Penurunan berat badan: dapat mengurangi sekresi androgen pada wanita obese dengan hirsuitisme melalui cara:
    • Menurunkan aromatisasi  estrogen perifer
    • Menurunkan hiperinsulinemia
  • Terapi medikamentosa:
    • Kontrasepsi oral :
      1. Menurunkan sekresi LH dan FSH serta produksi androgen ovarium
      2. Meningkatkan produksi SHBG di hepar
      3. Menurunkan kadar DHEA
      4. Mencegah neoplasma endometrium.
    • Progestin: Menekan FSH dan LH hipofisis serta androgen dalam sirkulasi
    • Obat sensitisasi insulin (metformin):
      • Menurunakn kadar androgen sirkulas
      • Memperbaiki ovulasi
      • Memperbaiki toleransi glukosa
    • Klomifen sitrat
  • Terapi Pembedahan:
    • Ovarian Drilling
image
    • Pengangkatan rambut 

1 komentar: